Martabak yang Lampunya Menyilaukan di Dipati Ukur

Yowa, kembali dengan cerita seputar martabak setelah agak lama vakum.

Kali ini saya akan mengulas penjual martabak yang humble, tidak pakai topping macam-macam. Menurut seorang teman sih katanya rasanya enak dan biasanya ramai yang antri. Sip, kita pun berangkat bareng kesana untuk membuktikan klaim tersebut.

Setibanya di depan gerobak martabak.

01

Waw, terang sekali lampu-lampu yang dipasang.

Nama gerobaknya Martabak Man…or Bangka?

Lampunya segitu menyilaukannya sampai sulit melihat namanya.

Coba kita lihat tulisan yang berbeda lebih dekat.

02

Artabak Manis & Telor Khas Bangka

Ok, ternyata nama gerobaknya biasa saja. Jadi bingung cerita kali ini kasih judul apa.

03

List menu martabak yang tersedia. Bisa dilihat betapa terang lampu di sebelahnya dan menutupi harga martabak di sisi kanan atas.

Untuk martabak telornya ada 3 kasta dengan pilihan jenis telor. Katanya sih yang biasa itu pakai 3 telor, special 4, dan istimewa 5 telor. Mari ambil yang tengahnya saja, special telor bebek seharga 28 ribu.

Sedangkan untuk martabak manis…. hmm sulit juga. Menu bagian kanan atas tidak terlihat jelas karena lampu, jadi mari kita coret dari opsi pilihan deh. Mm oke, saya memutuskan beli keju coklat seharga 25 ribu.

Martabak sudah dipesan, mari kita lihat-lihat sejenak.

04

Waw, jadi martabak dengan nama generik ini punya piagam penghargaan dari MURI!

Penghargaan yang didapat itu… duh susah juga dibacanya. Ah, pembuat martabak telor terbesar ternyata. Sama sih dengan gambar piagam hasil search google. Ada videonya juga.

Hmm, jadi kita bisa berharap kalau potongan martabak telor yang dibuat nanti akan besar.

05

Setelah diperhatikan lebih dekat, martabak yang satu ini dagangannya menggunakan badan mobil. Jadinya jualannya pakai tempat lebih kecil.

Kalau difoto pun jadi lebih enak ya, soalnya hadap-hadapan gitu kompor martabak manis dan telornya. Juga penjual martabaknya.

06

Wah, martabaknya mengembang menjadi tebal.

Oke, singkat cerita martabak selesai  di masak, dan kita pulang menuju markas untuk menyantap martabak.

Penampakan box martabak.

07

Err, kok gambar dan hurufnya susah dilihat ya? Apakah kita perlu memakai kacamata 3D untuk melihatnya? Atau kacamata AR untuk teknologi tersembunyi?

Sayang keduanya saya tak punya, jadi belum bisa menguak misteri ini.

08

Di bagian depan  box-nya juga tulisan terima kasih dicetak dengan teknologi yang sama.

09

Di bawahnya ada stempel percetakan yang dipakai. Wow.

Kalau ada yang penasaran atau ingin box yang dicetak dengan teknologi seperti di atas, bisa coba kontak alamat di gambar.

Oke, mari kita buka box martabaknya.

10

Mmmm, aroma dan tampilannya sudah terlihat gurih. Lumayan gede juga potongannya nih.

Coba lihat lebih dekat.

11

Aduhh, sungguh ga tahan liat kulitnya dari deket gini. kyakanya bakal renyah.

Dari samping juga kliatannya daun bawang yang dipakai pas prosinya. Telornya pun terlihat banyak meski martabak juga besar. Pasti karena pakai telor bebek.

12

Mulai dari kulitnya ahh..

*kraukk kruk

Waww, sungguh luar biasa tingkat kegaringan dari kulitnya ini! Lebih garing dari iklan permen mintz. Tekstur segaring ini biasanya didapat kalau kulit martabak nyaris gosong. Perlu kontrol pnas minyak yang presisi untuk mendapat hasil seperti ini.

13

*nyamnya

Mmmm… enak juga. Daun bawangnya disini pas tidak berlebih. Rasa telornya lebih dominan di adonan ini, mungkin karena menu spesial lebih banyak tapi dagingnya sama jumlahnya. Ada dagingnya juga, tapi agak kurang potongannya. Dan masih sedikit di bawah Legit untuk rasa dagingnya.

Beruntung martabak ini punya kulit yang benar-benar oke, jadi secara tekstur di lidah martabak telor ini di atas rata-rata.

Coba kita nikmati dengan acar dari martabak.

14

Hmm, oke aja sih. Tidak terlalu membantu cita rasa dari martabak.

Gitu aja deh seputar martabak telor. Mari beralih ke martabak manis.

15

Waw, entah mengapa coklatnya tampak bersinar terang.

Potongannya gede dan tebal.

16

Langsung aja kita cicip

*nyam nyamnyam

Mmmm, lezat juga martabaknya. Dagingnya terasa lebih kenyal daripada adonan biasanya, juga lebih manis. Dan isian keju coklatnya meski terlihat sedikit, dapat mengimbangi ketebalan dagingnya. Nampaknya susu yang dituangkan cukup banyak. Sayangnya mentega yang dioleskan terlalu tipis. Kayaknya kalau dibiarkan dingin bentar rasanya akan menurun cukup jauh.

17.JPG

Boleh juga lah martabak yang satu ini dicoba. Overal saya kasih skor untuk martabak telor:

  • pandangan pertama = 7.5/10
  • kulit = 9/10
  • adonan isi = 8/10
  • pelengkap = 7/10
  • price-value = 7.75/10

Kalau pesan yang biasa price-valuenya jadi 8/10.

Sementara untu martabak manisnya

  • pandangan pertama = 7.5/10
  • topping = 8/10
  • daging = 8/10
  • price-value = 8/10

Bolehlah dipesan yang martabak manisnya ini. Rasa lumayan, potongan gede-gede.

Berhubung jualannya tidak digedung, kalau tertarik mencoba bisa kunjungi tempat yang dilingkari biru pada gambar. Nanti pasti bakal nemu mobil box jualan yang lampunya terang.

Sekian.

P.S. Jangan lupa subscribe ya untuk mendapat update cerita martabak yang terbaru!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s